Pengembangan Buah Nanas Unggul di Kediri Terkendala Bibit yang Terbatas

KEDIRI, Tugujatim.id – Produksi nanas di Kabupaten Kediri masih perlu dikembangkan terutama jenis PK 1 yang merupakan komoditas unggul. Terbatasnya bibit menjadi kendala utama bagi pengembangan nanas di lereng Gunung Kelud tersebut.

Kasi Perbenihan dan Perlindungan Tanaman Holtikultura Dinas Pertanian dan Perkebunan (Dispertabun) Kabupaten Kediri, Vinorita, mengatakan bahwa saat ini nanas jenis PK 1 di Kecamatan Ngancar produksinya masih rendah. Hanya ada 8 hektare lahan nanas berjenis unggul ini.

berita selengkapnya bisa di lihat di link berikut :

https://tugujatim.id/pengembangan-buah-nanas-unggul-di-kediri-terkendala-bibit-yang-terbatas/

IPB Panen Bawang Merah Hasil Riset Varietas Unggul di Blitar

Pusat Kajian Hortikultura Tropika (PKHT), Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Institut Pertanian Bogor (IPB University) melakukan panen bawang merah hasil diseminasi riset varietas unggulan di Kabupaten Blitar.

Panen dilakukan di lokasi demfarm yang dikembangkan bersama dengan mitra setempat melalui Program Prioritas Riset Nasional (PRN).

Panen bawang merah ini dihadiri oleh Tim Peneliti PRN Bawang Merah yang diketuai oleh Prof.MA Chozin, Kepala PKHT IPB University Dr. Awang Maharijaya, hingga pejabat local di Kecamatan Panggungrejo, Kabupaten Blitar.

Menurut Awang, PKHT IPB University mengembangkan demplot farm (demfarm) bawang merah di beberapa lokasi, yaitu Kabupaten Blitar, Jawa Timur (1 hektare), Kabupaten Tegal (0,5 hektare) dan Kabupaten Kebumen (2.000 meter persegi) serta Kabupaten Kuningan (1 hektare).

“Panen ini merupakan bagian dari rangkaian uji coba dan diseminasi hasil riset varietas unggul dan teknologi produksi bawang merah,” ujar Awang seperti dikutip dari situs resmi IPB University, Senin (31/01/2022).

Varietas yang ditanam adalah varietas yang dikembangkan oleh PKHT IPB University, yaitu Tajuk (ditanam di Blitar, Kebumen, Tegal) dan SS Sakato (ditanam di Kebumen dan Kuningan).

“Diharapkan dengan demfarm ini, masyarakat tertarik menggunakan varietas unggul yang telah dihasilkan oleh PKHT IPB University sebagai alternatif jenis bawang merah yang dikembangkan oleh masyarakat,” tandasnya.

Sementara itu, menurut Nur, petani yang lahannya menjadi lokasi demplot, produksi bawang merah yang dikembangkan ini sangat bagus.

“Produksinya mencapai 17 ton—20 ton per hektare (berat basah). Varietas yang ditanam adalah Tajuk. Selain produksinya yang tinggi, keunggulan bawang adalah kurang disukai oleh ulat bawang [Spodoptera exigua] sehingga serangan hama ulat bawang relatif rendah,” ujarnya.

Editor: Bunga NurSY

Kepala LPPM IPB University Kunjungi Demfarm Bawang Merah Tegal

Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) IPB University, Dr Ernan Rustiadi lakukan monitoring dan evaluasi kegiatan penelitian di salah satu lokasi yang dijadikan demfarm produksi bawang merah, beberapa waktu lalu. Kunjungan dilakukan di lahan petani di Dukuh Jatilawang, Desa Jembayat, Kecamatan Margasari, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah.

Penelitian ini dibiayai melalui program Prioritas Riset Nasional yang berjudul “Komersialisasi Bawang Merah Varietas Baru untuk Stabilisasi Suplasi Bawang Merah Nasional”. Tim peneliti terdiri dari Prof Muhamad Achmad Chozin selaku ketua, dengan anggota tim Prof M Firdaus, Dr Awang Maharijaya,  Dr Heri Harti, Dr Suryo Wiyono, Dr Endang Gunawan, dan Kusuma Darma, SP, MSi. Tim ini merupakan pakar-pakar di Pusat Kajian Hortikultura Tropika (PKHT) IPB University.

“Selain di Tegal.  Kegiatan demfarm produksi bawang merah juga dilakukan di Kuningan, Kebumen dan Blitar. PKHT IPB University telah menghasilkan produk berupa varietas bawang merah yang dikembangkan berbasis sumberdaya lokal. Varietas ini sudah diuji pada lingkungan sebenarnya hingga mencapai TKT (Tingkat Ketersiapan Teknologi) pada level 8 yaitu varietas bawang merah Tajuk dan SS Sakato,” jelas Dr Ernan.

Menurutnya, varietas Tajuk dilepas bekerja sama dengan Pemda Kabupaten Nganjuk, sedangkan varietas SS Sakato dilepas bekerja sama dengan Pemda Kabupaten Solok.

“Saat ini bibit varietas-varietas baru ini belum tersedia dalam jumlah banyak. Oleh karena itu, perlu kegiatan komersialisasi karena sudah dilepas dan terbukti unggul di lapangan. Dengan tersedianya benih unggul bermutu ini akan meningkatkan produktivitas sehingga akan mendukung stabilitas produksi dan harga bawang merah di Indonesia,” imbuhnya.

Ia menjelaskan bahwa pembuatan demfarm di lahan petani bertujuan untuk melakukan uji coba varietas dan teknologi produksi. Selain itu, juga merupakan lahan belajar bagi petani yang akan mengadopsi benih dan teknologi budidaya bawang merah yang dikembangkan.

“Varietas bawang merah yang ditanam di demfarm Kabupaten Tegal adalah Tajuk dengan luas setengah hektar. Varietas Tajuk memiliki keunggulan dapat beradaptasi dengan baik pada musim kemarau dan tahan terhadap hujan serta memiliki aroma yang sangat tajam. Sehingga varietas ini cocok digunakan sebagai bahan baku bawang goreng. Produksi bawang merah Tajuk bisa mencapai 16 ton per hektar,” imbuhnya.  (**/Zul)

Published Date : 06-Jan-2022
Narasumber : Dr Ernan Rustiadi (IPB Today Edisi 713)
Kata kunci : Bawang Merah, OKHT, Penelitian, IPB University, Varietas Tajuk
SDG : SDG 4 – PENDIDIKAN BERMUTU, SDG 9 – INFRASTRUKTUR, INDUSTRI DAN INOVASI, SDG 15 – MENJAGA EKOSISTEM DARAT

Prof Sobir Sebut Indonesia Dapat Menjadi Pemain Besar Industri Benih Dunia

Source : IPB Today Volume 643 Tahun 2021

Posisi Indonesia dalam industri perbenihan dunia memiliki potensi yang sangat besar. Potensi lainya adalah Indonesia memiliki keragaman lingkungan tinggi, iklimnya lembab dan mendapatkan pancaran sinar matahari sepanjang tahun. Luas Indonesia hanya 1,3 persen dari luas daratan dunia, namun kepadatan biodiversitasnya mampu bersaing dengan Brazil. Biodiversitas yang tinggi menjadikan Indonesia  memiliki kekayaan genetik yang tinggi.

Prof Sobir, Guru Besar IPB University mengatakan potensi kawasan tropika sangat besar untuk menjadikan Indonesia sebagai pemain besar industri benih dunia. Bisnis hortikultura dunia akan kian meningkat hingga 100 milyar US Dólar sampai tahun 2023. Kawasan Asia Pasifik memiliki tingkat kepadatan penduduk yang tinggi sehingga pertumbuhan ekonominya tinggi. Kebutuhan akan produk-produk bermutu yang berasal dari benih yang bermutu pun meningkat.

Hal ini disampaikannya dalam webinar Strategi Produksi Benih Unggul Mendukung Pengembangan Agroindustri Hortikultura yang Berdaya Saing dan Berkelanjutan yang digelar Pusat Kajian Hortikultura Tropika (PKHT) IPB University bekerjasama dengan Direktorat Jenderal Hortikultura, Kementerian Pertanian RI, belum lama ini.

Menurut Dosen IPB University di Departemen Agronomi dan Hortikultura Fakultas Pertanian ini, potensi Indonesia sebagai pemain besar dalam industri benih sangat memungkinkan. Kondisi iklim Indonesia mendukung petani untuk bisa menanam sepanjang tahun. Keragaman agroklimat tinggi sehingga keragaman daya adaptasi varietasnya tinggi. Serangan penyakit juga tinggi sepanjang tahun, sehingga varietas Indonesia mampu bertahan di negara sendiri maupun kawasan lain.

“Ketika untuk bersaing di Indonesia, varietas tersebut harus dikembangkan di Indonesia. Sebaliknya, varietas yang dikembangkan di Indonesia akan mampu bertahan dan bersaing di mana-mana,” ujar peneliti Pusat Kajian Hortikultura Tropika (PKHT) IPB University tersebut.

Dengan adanya bonus demografi, banyak tren pertanian berbasis usaha sehingga banyak pengusaha muda di bidang industri benih. Dengan meningkatnya pemanasan global, Indonesia juga berpeluang mengembangkan benih varietas tropika yang dibutuhkan bagi wilayah sub tropika. Varietas-varietas lokal juga beragam dan dinilai mampu berdaya saing tinggi.

“Penting untuk kita sampaikan bahwa kita ingin sekali pemain yang sudah besar di Indonesia kemudian didorong menjadi pemain global. Sementara perusahaan-perusahaan benih lokal kita dorong untuk menjadi pemain-pemain tangguh yang memiliki resiliensi di pasar domestik,” tambahnya.

Perumusan Undang-Undang 13 Tahun 2010 tentang Hortikultura juga telah mendorong kemajuan pengembangan varietas. Kecepatan pemuliaan tanaman setelah undang-undang tersebut diresmikan mencapai tiga kali lipat lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya. Tiga tahun setelah UU Hortikultura, terjadi tren pengembangan industri benih di Indonesia. Ini karena perusahaan industri benih tergolong besar dan permintaan benih atau pasar benih juga sama besarnya.

Menurutnya, dalam mendorong industri hilir, industri hulu harus didukung supaya dapat menjadi pemain global. Ia pun menerangkan, dalam meningkatkan daya saing industri benih, ada empat hal yang perlu didorong. Yakni peningkatan sumberdaya manusia pemulia, penyediaan sumber daya genetik unggul, peningkatan teknologi perakitan varietas, dan efisiensi produksi benih. 

“Karena melihat potensi besar industri benih, beberapa industri hilir yang tadinya fokus pada penjualan benih, sekarang masuk ke dalam industri hulu. Mereka melakukan pemuliaan sendiri dan juga meminta varietas ke hulu. Ini sesuatu yang sangat baik, dengan demikian kita harus mendorong pihak di industri hilir ini memperkuat industri hulunya, sementara yang memiliki industri hulu memperkuat industri hilirnya,” terangnya. (MW/Zul)

Focus Group Discussion (FGD) Pengembangan Sistem Fertigasi Terintegrasi

Source : IPB Today Edisi 636 Tahun 2021

Sandi Octa Susila, alumnus IPB University yang terkenal karena kiprahnya sebagai petani milenial tertarik untuk mengembangkan Program FERADS Decision Support System, sebuah program yang dikembangkan oleh Pusat Kajian Hortikultura Tropika (PKHT) IPB University. Kehadiran FERADS bertujuan untuk memudahkan petani dalam penetapan rekomendasi pemupukan secara presisi berdasarkan analisis tanah.  

Sandi mengatakan, pihaknya sedang menanti inovasi pertanian seperti ini. “Ini pasti akan sangat disukai petani milenial jika ada yang murah, mudah dan sangat membantu petani,” ucap Sandi dalam Focus Group Discussion (FGD) Pengembangan Sistem Fertigasi Terintegrasi yang digelar secara virtual, 19/8.

Dr Awang Maharijaya, Kepala Pusat Kajian Hortikultura Tropika IPB University menyampaikan pihaknya saat ini sedang mengembangkan sistem fertigasi terintegrasi V1. “Sistem ini berhubungan dengan mesin aplikasi irigasi dan  fertigasi (pemupukan melalui irigasi). Kebaruan dari mesin ini adalah integrasi mesin dengan program FERADS (Decision Support System),”  ujarnya.

Lebih lanjut, dosen IPB University dari Departemen Agronomi dan Hortikultura ini menjelaskan, FERADS adalah program penetapan dosis pemupukan berdasar analisis tanah. Dr Awang juga mengatakan, rekomendasi pemupukan yang telah ditetapkan selanjutnya di upload ke dashboard pengontrol pemupukan. Rekomendasi tersebut dapat diaplikasikan secara presisi sesuai dengan tahap pertumbuhan tanaman.  

“Program FERADS Decision Support System merupakan salah satu solusi untuk meningkatkan produktivitas sayuran Indonesia saat ini dengan menerapkan pertanian presisi pada kegiatan budidaya oleh petani sehingga dapat memaksimalkan hasil panen,” ujarnya.

Sementara itu, Prof Erika B Laconi, Wakil Rektor IPB University Bidang Inovasi dan Bisnis menyampaikan apresiasi dan berharap aksi riset IPB University akan terus meningkat kualitasnya.  “Jika kita ingin ada ketahanan pangan maka kita harus kuat dari hulu hingga hilir. Untuk itu, kita harus kuatkan juga dengan bibit,” ucapnya.

Prof Erika berharap, hasil penelitian ini dapat diujicoba sampai dengan diuji produksi. Ia menyampaikan bahwa dalam sebuah pendanaan riset, hasilnya adalah output yang siap dikerjasamakan ke mitra industri.

Terkait program FERADS, Dr Ernan Rustiadi, Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) IPB University menyampaikan bahwa program tersebut merupakan suatu terobosan yang sangat diperlukan seiring dengan karakter milenial saat ini. Ia mengatakan, Indonesia tidak bisa lagi mengandalkan sumberdaya alam dan sumber daya manusia yang konvensional. Hal tersebut sejalan dengan konsern IPB University yang memiliki Road Map Agro Maritim 4.0.

Sementara itu Prof Anas D Susila, peneliti program FERADS memaparkan proses kerja program FERADS yang diaktualisasi dengan program NUTRIGADS. Prof Anas menjelaskan, NUTRIGADS adalah mesin yang dapat menerjemahkan hasil rekomendasi pemupukan yang dihasilkan oleh program FERADS berupa aplikasi pupuk secara presisi yang dapat dikontrol secara remote. (*/RA)

“Praktisi Pusat Kajian Hortikultura Tropika IPB University Berikan Tips Budidaya Pepaya Callina”

Source : IPBToday

Praktisi budidaya pepaya dari Pusat Kajian Hortikultura Tropika (PKHT), Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IPB University, Ahmad Kurniawan, SBio paparkan metode budidaya pepaya callina. Dalam webinar “Teknis Praktis Budidaya Pepaya Callina” (31/07) Ahmad Kurniawan menjelaskan keunggulan dari budidaya pepaya callina.

“Budidaya pepaya itu banyak keunggulannya. Di antaranya tidak musiman, produktivitasnya tinggi, daya adaptasi luas, bernilai ekonomis tinggi, harga relatif stabil dan umumnya disukai oleh konsumen. PKHT IPB University sudah berupaya melakukan pembudidayaan berbagai jenis pepaya. Ada pepaya berukuran kecil (400-800 gram/buah), sedang (1000-1600 gram/buah) dan besar (lebih dari 2000 gram/buah),” ujarnya.

Baca Selengkapnya disini