Panen Bawang Merah SS Sakato

Pada tahun 2020, Pusat Kajian Holtikutura Tropika (PKHT) Institut Pertanian Bogor (IPB) bekerjasama dengan Kelompok Tani Pawuah Sapakek menanam benih sumber di lahan Kelompok Tani Pawuah Sapakek.  Pada hari Senin, 15 Februari 2021 diadakan panen Bawang Merah SS Sakato  di Lahan Kelompok Tani Pawuah Sapakek Nagari Sungai Nanam, Jorong Pakan Sabtu, Kec. Lembah Gumanti.

https://www.hantaran.co/mengenal-bawang-merah-unggul-solok-yang-butuh-sentuhan-teknologi/

Difusi Produk Inovasi Bibit Buah Bermutu Indonesia

Untuk memulai pengembangan perkebunan skala perkebunan dan terintegrasi diperlukan bibit buah dengan varietas yang jelas dan kualitas yang juga terstandard. Pemilihan dan pengembangan varietas-varietas unggul serta teknik perbenihan yang baik dan efisien menjadi faktor penting untuk dapat mengatasi masalah rendahnya produktivitas, kualitas, kontinyuitas, konsistensi, dan efisiensi. Terkait dengan hal tersebut, Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi bekerjasama dengan Pusat Kajian Hortikultura Tropika, LPPM – IPB akan mengadakan kegiatan difusi produk inovasi bibit buah ungulan nusantara untuk meningkatkan dayasaing dalam rangka menggerakkan industri buah nasional yang dimulai dari revitalisasi kebun masyarakat.

Sampai bulan Mei 2019, semua kegiatan difusi produk inovasi bibit buah bermutu Indonesia telah dilaksanakan di 17 Kabupaten yang ditetapkan. Selain itu juga sudah didesiminasikan sebanyak 10.200 bibit buah bermutu dan 2.550 pack benih pepaya hasil inovasi PKHT ke 17 daerah tersebut. Selain 17 Kabupten yang ditetapkan, diseminasi bibit buah juga dilakukan ke 8 Kabupaten lainnya sebanyak 2.400 bibit. Kegiatan berjalan dengan lancar dan masyarakat menyambut dengan antusias. Kendala teknis tidak ditemukan dalam kegiatan ini. Kendala yang ditemukan adalah terlambatnya pencairan dana dan lambatnya proses administrasi.

Kegiatan penelitian lainnya yang dilakukan PKHT adalah:

  1. Work plan in the field of the Evaluation Vegetable Genetic Resources kerjasama dengan JATAFF
  2. Pengembangan bawang merah di Namjuk
  3. Controling of Spodoptera exigua by non-chemical methods (EAWINDO)
  4. Pengembangan Varietas Unggul Bawang Putih

Start Up Industri Pengembangan Bibit Buah Tropis Untuk Mendukung Program Nasional Revolusi Oranye

Tujuan jangka panjang dari kegiatan ini adalah berkembangnya industri buah-buahan nasional yang berdayasaing sehingga dapat memenuhi kebutuhan buah nasional sekaligus mensubstitusi buah impor, dan menjadikan buah nusantara sebagai sumber pendapatan baru baik melalui penumbuhan agroindustri maupun ekspor buah nusantara. Adapun tujuan jangka pendek dari kegiatan pengembangan industri bibit buah nusantara ini adalah: 1) Mengembangkan sistem produksi pembibitan buah-buahan nusantara yang terstandarisasi, dengan infrastruktur yang memadai dan menjadi contoh dalam sistem perbenihan/pembibitan buah nasional, 2) Membentuk sistem dan jaringan produksi serta pemasaran bibit buah nusantara dengan para penangkar di berbagai sentra produksi, 3) Melaksanakan produksi pembibitan buah varietas unggul bermutu yang memiliki prospek pasar nasional maupun internasional (ekspor dan subtitusi impor).

Dengan tujuan yang ditetapkan tersebut, sasaran yang akan dicapai melalui kegiatan ini adalah: 1) Tersusunnya Prosedur Operasional Baku atau Standard Operational Procedure (SOP) dan Good Agriculture Practice (GAP) produksi bibit buah nusantara, 2) Diterapkannya teknologi terbaru dalam produksi bibit buah nusantara, 3) Terselenggaranya sosialisasi dan pelatihan kepada para penangkar di berbagai sentra produksi, 4) Teridentifikasinya dan terseleksinya pohon induk yang akan dijadikan sumber entres, 5) Terseleksinya penangkar yang dapat dijadikan sebagai mitra pembibitan buah skala nasional, 6) Terlaksananya produksi bibit yang terstandarisasi.

Kegiatan dan output yang diharapkan tercapai tahun 2019

Kegiatan

Output
Penguatan network/jaringan manajemen produksi dan hub berbasis database dan IT 1.  Network/jaringan produksi nursery yang terintegrasi dan berbasis IT

2.  Network/jaringan 3 hub dan integrated system di dalam web www.botaniseedipb.com

Penguatan pusat nursery buah nusantara berbasis modern marketing system Pusat nursery buah nusantara yang semakin kuat di Ciater, Subang yang diindasikan dengan profit naik 200%
Pembangunan dan penguatan percontohan orchard dan orchard mini nuah varietas unggul 1.    Orchard Subang 20 Ha

2.    Mini orchard bogor 2 Ha

3.    New area 5 Ha

Penguatan layanan teaching industry untuk sertifikasi  kompetensi/profesi 1.    Batch 1: layanan sertifikasi keprofesian untuk manajemen nursery

2.    Batch 2: layanan sertifikasi keprofesian untuk manajemen nursery

Sosialisasi, promosi/edukasi pengembangan orchard buah

1.    jumlah pemerintah daerah, mitra, swasta yang mengembangankan orchard meningkat (15 pemkab tersosialsiasi dan 21 penguasaha swasta)

2.    minimal 3-4 PKS dengan mitra

Teknologi Mikroba Intensif untuk Pengendalian Hayati Penyakit Tanaman Cabai

Teknologi microbe-intensive diterapkan pada fase pembibitan dan fase penanaman di lapangan.  Saat ini, penerapan teknologi pada fase pembibitan telah selesai dilaksanakan dan penerapan teknologi di lapangan sudah pada umur tanaman 70 hari setelah tanam.  Pengamatan pada persemaian cabai menunjukkan bahwa teknologi microbe-intensive dapat mempercepat dan meningkatkan persentase benih berkecambah, meningkatkan keseragaman perkecambahan benih, meningkatkan pertumbuhan bibit, dan mengurangi penyakit rebah kecambah.  Tanaman yang diberi perlakuan microbe-intensive di pembibitan dan di lapangan mempunyai jumlah cabang paling banyak.  Hal ini menunjukkan bahwa tanaman cabai dengan perlakuan microbe-intensive di pembibitan dan di lapangan memiliki potensi produksi yang lebih baik dari perlakuan lainnya.  Pengamatan serangan penyakit di lapangan menunjukkan bahwa perlakuan microbe-intensive memberikan hasil yang sama baiknya dengan perlakuan konvensional menggunakan pestisida sintetis.  Oleh karena itu, penggunaan microbe-intensive dapat mengurangi ketergantungan petani terhadap pestisida sintetis.

Pengaruh teknologi microbe-intensive dalam meningkatkan perkecambahan benih ini disebabkan oleh kemampuan dari mikroba tersebut untuk menghasilkan berbagai zat pengatur tumbuh yang dibutuhkan tanaman seperti auxin [1] atau memacu pembentukan gibberellin di dalam biji yang akan memacu perkecambahan [2].  Pengaruh PGPR dalam meningkatkan perkecambahan benih telah dibuktikan juga pada beberapa tanaman seperti jagung [2], sorgum [3], gandum [4], dan bunga matahari [5].  Meningkatnya jumlah benih yang berkecambah dapat menurunkan jumlah benih yang disemai sehingga akan mengurangi biaya produksi.

Pengembangan Pepaya True To Type Koleksi Pkht Lppm Ipb Melalui Protokol Perbanyakan Klonal Secara Teknologi Konvensional Dan Kultur Jaringan

Permasalahan budidaya tanaman pepaya seperti varietas Callina yaitu sulitnya mendapatkan tanaman pepaya true to type dan menentukan jenis kelamin asal biji pada fase bibit karena tingginya keragaman fenotipe dalam populasi, antar populasi serta antar generasi. Hal seperti ini juga dialami oleh BPTP Provinsi Kalimantan Barat dalam perbanyakan pepaya tipe hawaii secara generatif di Kebun Percobaan Sei Kakap. Keragaman fenotipe dapat dikurangi melalui perbanyakan klonal dari tanaman hermaprodit melalui in vitro maupun ex vivo. Perbanyakan tanaman secara in vitro diawali dengan proses sterilisasi eksplan yaitu merendam eksplan dalam NaOCl bertingkat yaitu 30% selama 5 menit, 15% selama 15 menit dan 5% selama 5 menit, dilanjutkan merendam dalam antibiotic Rifampicin 450 g/l dalam 200 ml aquadest steril selama 15 menit dapat mengurangi kontaminasi hingga mencapai 70%. Inisiasi tunas aksilar pepaya Caliso, Callina dan Sukma dilakukan pada media MS dengan menambahkan 1.0 mg/l BA + 0.05 mg/l NAA. Varietas Caliso adalah varietas tercepat dalam munculnya tunas yaitu pada umur 6 hari setelah tanam eksplan (HST) sebanyak 6 tunas per eksplan, sedangkan tunas lateral in vitro varietas Sukma muncul setelah 13 HST dengan 2 buah tunas per eksplan, dan pada varietas Callina tunas lateral muncul pada 8 HST sebanyak 2 tunas per eksplan. Kalus embriogenik pada  perbanyakan embrio somatik pepaya Callina memiliki ciri struktur kalus remah transparan, berair dan kekuningan pada penggunaan media dasar MS dengan perlakuan 2,4-D 9.05 μM + 30 g/l glukosa dan 2,4-D 22.6 μM + 30 g/l glukosa. Kalus embrio somatik pepaya varietas Callina membentuk tahap kotiledon (cotyledonary shape) pada umur 3 bulan setelah inisiasi dengan menggunakan media 2,4-D 5 mg L-1 dan gula 30 g L-1. Perbanyakan klonal juga dapat dilakukan dengan pembiakan vegetative konvensional melalui penyambungan (grafting). Persentase keberhasilan penyambungan untuk batang atas Callina dan batang bawah tipe papaya liar liar (CL) mencapai 57.04-95.56%, keberhasilan sambungan batang atas Callina dengan batang bawah Sukma (CB) mencapai 53.97-80.16%, dan batang atas Callina dengan batang bawah pepaya Dieng (CD) mencapai 8.33-72.22%. Tunas Agro Mandiri Bogor merupakan salah satu penangkar benih yang melakukan perbanyakan pepaya secara grafting. Informasi teknologi perbanyakan bibit pepaya baik secara in vitro maupun ex vitro merupakan teknologi yang dapat diterapkan di tingkat petani untuk meningkatkan produksi tanaman pepaya true to type.

Pengembangan Varietas Cabai Rawit Merah Tahan Anomali Iklim Berbasis Sumber Daya Lokal

Cabai rawit merah merupakan komoditas hortikultura yang memiliki periode panen yang panjang sehingga sangat rentan terhadap anomali iklim. Adanya perubahan iklim yang sangat drastis misalnya curah hujan yang berlebih menyebabkan tanaman cabai rawit merah di sentra produksi Jawa Timur banyak yang busuk, sehingga produksi menurun. Hal ini dapat menyebabkan berkurangnya pasokan cabai nasional. Akibat rendahnya pasokan menyebabkan harga cabai rawit merah melambung tinggi yaitu Rp 170.000/kg di Pasar Jakarta. Untuk mengatasi permasalahan produksi cabai rawit merah yang rentan terhadap perubahan anomali iklim dan menjaga kestabilan produksi dan harga maka perlu dilakukan kegiatan pengembangan varietas cabai rawit merah dengan periode panen pendek untuk antisipasi anomali iklim.

Pada rangkaian penelitian sebelumnya PKHT-IPB telah mengumpulkan dan mengkarakterisasi beberapa koleksi plasma nutfah cabai rawit merah termasuk genotipe-genotipe lokal. Genotipe lokal memiliki keunggulan diantaranya, memiliki periode panen yang pendek dan mampu menyesuaikan dengan kondisi ekstrem. Beberapa koleksi tersebut sudah dievaluasi dan di karakterisasi. Diantara koleksi tersebut ada yang berpotensi untuk dikembangkan menjadi varietas yang mempunyai periode panen pendek dan beradaptasi terhadap anomali iklim. Tujuan umum penelitian ini adalah untuk meningkatkan kapasitas produksi cabai rawit merah di Indonesia. Penelitian ini terdiri atas beberapa percobaan, yaitu: (1) Penyediaan berkelanjutan sumberdaya genetik potensial; (2) Pengujian calon varietas unggul potensial (3) perakitan varietas dan (4) pendaftaran komersial varietas tanaman.  Target TKT yang akan dicapai pada akhir tahun penelitian adalah 4.  Kemajuan penelitian sampai November  2019 adalah telah dilakukan penanaman dan peremajaan sebanyak 44 koleksi plasma nutfaf cabai rawit.  Saat ini juga sedang dilakukan pengujian keunggulan salah satu calon varietas yang berpotensi dikembangkan sebagai varietas unggul.   Perakitan varietas baru cabai rawit.  Perakitan varietas dilakukan melalui  pendekatan yaitu: persilangan tetua potensial, mutasi untuk memperpendek periode panen dan dilanjutkan seleksi untuk mendapatkan genotipe unggul, sesuai kriteria yang dituju.