Diseminasi Pepaya Callina di Yogyakarta

Kegiatan ini dilakukan dalam rangka memberikan lisensi ke CV. Jogya Horti Lestari untuk produksi benih pepaya Calina, maka perlu dilakukan survey kelayakan lahan untuk produksi benih Calina. Survey yang dilakukan meliputi ada tidaknya pohon pepaya lain disekitar lahan produksi benih, melihat ciri-ciri dari pohon pepaya calina apakah sesuai dengan deskripsi pepaya Calina, jika ada pohon pepaya yang tidak sesuai dengan deskripsi disarankan untuk dibuang/tebang sehingga didalam satu populasi tersebut hanya ada pohon pepaya Calina. Selain itu, memperkenalkan cara budidaya dan produksi benih pepaya sesuai dengan SOP serta memberikan buku panduannya.

Kondisi pohon Calina dan lahan produksi benih pepaya Calina

Diseminasi Bibit Pepaya Hasil Pengembangan PKHT melalui Program IbIKK

Penyediaan Bahan Cetak

Pembuatan leaflet

Leaflet dibuat sebagai salah satu sarana bahan pendukung diseminasi varietas pepaya yang dikembangkan PKHT IPB. Leaflet ini sangat berguna pada saat pameran dan juga digunakan sebagai atribut pendukung saat diseminasi benih pepaya ke petani. Pada tahun 2012 sudah disusun leaflet tentang profil genotipe pepaya hasil pemuliaan PKHT IPB yang berisi tentang karakterisasi 4 genotipe pepaya yang siap untuk didiseminasikan dan uji coba produksi di lahan petani.

Pembuatan Modul Pelatihan

Modul pelatihan disusun sebagai bahan pegangan dan panduan bagi peserta saat melaksanakan pelatihan budidaya pepaya. Isi modul pelatihan lebih singkat dan padat namun lebih mudah dipahami oleh pengguna dibandingkan panduan singkat SOP pepaya dan terbagi dalam tiga bahasan yaitu: pembibitan, budidaya dan pascapanen.

Modul ini merupakan bentuk penyesuaian dan penyempurnaan dari modul pelatihan yang sudah disusun oleh PKHT pada tahun sebelumnya. Revisi untuk penyempurnaan modul pelatihan ini dilakukan pada tahun 2013. Penyempurnaan dilakukan terhadap beberapa bagian teknologi budidaya maupun pascapanen.

Revisi acuan Standar Operasional Produksi (SOP) Pepaya

Selama Program Pengabdian kepada Masyarakat dilaksanakan, PKHT melakukan revisi dan penyempurnaan terhadap buku acuan Standar Operasional Produksi (SOP) Pepaya yang sudah diterbitkan oleh PKHT pada tahun 2009. Penyempurnaan ini dilakukan dalam hal tambahan paket teknologi yang berhasil diperoleh setelah tahun 2010. Begitu juga dilakukan penambahan gambar ilustrasi sehingga lebih memudahkan pembaca/petani untuk memahami petunjuk teknis yang ada pada setiap langkah pengerjaan teknis produksi pepaya.

Diseminasi Benih dan Paket Teknologi Budidaya Pepaya IPB

Pelatihan Agribisnis Pepaya IPB

Pelatihan sebagai bentuk sosialisasi SOP dan teknologi produksi pepaya IPB selama periode tahun 2012-2014, telah dilakukan selama tujuh kali pelatihan. Pelatihan dilakukan pada beberapa kelompok tani  dan mitra PKHT dari berbagai daerah sentra produksi pepaya di Jawa Barat dan Jawa Tengah.

Pada tahun 2012 telah dilakukan empat kali pelatihan, yaitu pada: 1) kelompok tani dari wilayah Kabupaten Banyumas Jawa Tengah,  2) Kelompok Tani D’Prima Cicurug Sukabumi Jawa Barat,  3) Petani Muda Indonesia Jawa Barat dan 4) Paguyuban Penangkar Bibit Kabupaten Garut. Pada tahun 2013 telah dilakukan dua kali pelatihan, yaitu: 1) pelatihan di kebun PTPN VIII Jawa Barat dan 2) Kelompok tani pepaya Gugah Nurani di Desa Nangerang Cicurug Sukabumi Jawa Barat.  Sedangkan pada tahun 2014, dilakukan satu kali pelatihan di kelompok tani Malangbong Garut Jawa Barat.

Pembinaan, Pendampingan dan Monitoring Terhadap Mitra Petani serta Pelaku Agribisnis Lainnya

Kegiatan pendampingan dan monitoring terus dilakukan terhadap petani dan pelaku agribisnis pepaya. Pendampingan serta monitoring sejak Maret 2012 sampai Desember 2014 sudah dilakukan ke petani atau mitra di beberapa sentra produksi pepaya di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jogyakarta. Pendampingan dan monitoring dilakukan pada kebun produksi buah dan produksi benih. Pada kegiatan pendampingan dan monitoring ini secara rutin team PKHT mengadakan kunjungan lapang secara langsung untuk mengetahui perkembangan kebun produksi buah maupun kebun produksi benih mitra petani. Begitu pula sebaliknya jika terdapat permasalahan di kebun, mitra petani datang untuk konsultasi ke kantor PKHT di Kampus IPB Baranangsiang.

Penyediaan Jasa Konsultasi dan Transfer Teknologi Produksi Pepaya Callina, Carisya dan Sukma.

Keberadaan media elektronik internet dimanfaatkan secara optimal sebagai sarana untuk penyebarluasan dan komunikasi antara tim ibikk PKHT dengan petani dan pengguna benih dan produk PKHT IPB. Penyebarluasan informasi dilakukan melalui website PKHT yang selalu up to date dan dapat diakses semaksimal mungkin oleh semua mitra PKHT.

Penyediaan jasa konsultasi dan transfer teknologi untuk mitra pengguna benih pepaya IPB dilakukan secara cuma-cuma atau gratis baik melalui email, sms, telepon maupun diskusi dengan tatap muka langsung di Information Center PKHT di Kampus IPB Baranangsiang.  Transfer teknologi dapat juga dilakukan melalui kunjungan lapang dan magang bagi mitra pengguna teknologi di Kebun Percobaan IPB.          

Pemutakhiran data website PKHT LPPM IPB

Website dikembangkan sebagai sarana informasi perkembangan dan kegiatan PKHT IPB. Berbagai informasi perkembangan komoditas pepaya dapat diunduh dalam website ini. Secara periodik berbagai informasi terus di mutakhirkan mengikuti perkembangan berbagai kegiatan yang dilakukan di PKHT terutama berbagai hal yang berkaitan dengan pepaya.

Diseminasi Bibit dan Teknologi Jeruk

Diseminasi bibit dan teknologi budidaya jeruk dilaksanakan dengan tujuan untuk mengenalkan jeruk berkulit jingga ke masyarakat sebagai langkah awal dalam upaya mengembangkan sentra produksi jeruk berkulit jingga.  Pada tahun ini, diseminasi difokuskan di Kabupaten Bogor mengingat ketersediaan bibit masih sedikit dan hanya untuk jenis jeruk Borneo Prima (BP) dan Garut dataran rendah (GDR).  Bibit jeruk yang didiseminasikan adalah bibit jeruk hasil perbanyakan secara okulasi yang telah berumur 6-12 bulan.

Jumlah bibit jeruk yang telah didiseminasikan adalah sebanyak 800 pohon dengan penerima bibit sebanyak 16 orang petani yang berlokasi di empat wilayah Kabupaten Bogor.  Jumlah petani dimasing-masing wilayah dapat dilihat pada tabel berikut :

Selain menerima bibit, petani mitra diseminasi juga mendapat kawalan teknologi berupa penyuluhan/pendampingan penerapan teknologi budidaya jeruk selama 6 bulan (Juli – Desember 2014).  Paket teknologi budidaya yang akan didiseminasikan meliputi teknik penanaman, pemupukan, pemangkasan, dan perawatan tanaman. Jadwal penyuluhan/pendampingan disesuaikan dengan fase pertumbuhan tanaman.  Sampai saat ini, telah dilakukan pendampingan untuk penanaman.  Seluruh bibit yang didiseminasikan telah ditanam oleh petani mitra dengan menerapkan SOP yang dikembangkan untuk jeruk.

Pendampingan petani mitra untuk penanaman bibit jeruk berkulit kuning jingga di beberapa lokasi di Kabupaten Bogor.

Penerapan Teknologi Budidaya Hortikultura Spesifik Lahan Gambut untuk Meningkatkan Pendapatan dan Kesejahteraan Masyarakat di Desa Sering, Kec. Kerinci, Kab. Pelalawan, Provinsi Riau

Pengembangan dan pemberdayaan masyarakat petani di kawasan konsesi RAPP (Riau Andalan Pulp and Paper) telah berjalan selama dua tahun. PT. RAPP sebagai perusahaan yang memiliki tanggung jawab sosial turut berupaya meningkatkan kesejahteraan dan taraf hidup masyarakat melalui pemberdayaan Desa Sering dan optimalisasi potensi lokal. Salah bentuk kepedulian tersebut adalah pengembangan tanaman hortikultura semusim dan tahunan di lahan Gambut.

Pengembangan tanaman hortikultura spesifik gambut di Desa Sering dilakukan dalam bentuk Demplot Area. Hasil pengembangan pilot demplot menjadi acuan para petani disekitar lokasi untuk mengembangkan lebih lanjut kegiatan budidaya dan agribisnisnya. Kegiatan praktek budidaya didampingi secara langsung oleh pihak CD RAPP dengan koordianasi dengan pihak PKHT IPB dan UNRI.

Sampai saat ini kegiatan teknis yang sudah dilakukan adalah (1). Evaluasi dan uji coba tanaman potensial hasil kajian tahun pertama. (2) Uji coba keberhasilan budidaya bawang merah dan penanaman papaya Calina (IPB 9) tahap II. (3). Evaluasi keberhasilan induksi pembungaan pada nenas, (4). Pelatihan dan pendampingan kegiatan budidaya tanaman papaya cabe, bawang merah dan papaya, (5). Menyusun draft budiadaya teknis (draft SOP spesifik lahan gambut) serta (6). Pengembangan kelembagaan kelompok Tani melalui pembentukan kelompok tani. Kegiatan budidaya dan uji coba keberhasilan penanaman tanaman semusim dan tahunan masih tetap berjalan, terutama tanaman Cabe , Papaya dan Bawang merah. Akibat kondisi kemarau yang berkepanjangan, beberapa tanaman seperti cabe dan bawang merah mengalami gagal panen dan gagal tumbuh secara optimal. Tanaman papaya, nenas relative masih dapat bertahan dalam kondisi air yang tidak tersedia.

Berdasarkan hasil kajian sementara menunjukkan bahwa tingkat keberhasilan budidaya tanaman hortikultura di lahan gambut tergantung dengan musim. Budidaya tanaman hortikultura saat musim penghujan (2013-2014) relative berhasil dibandingkan saat musim kemarau panjang seperti saat ini (2015) tanaman sangat sulit tumbuh dengan baik, apalagi dengan ketersediaan air yang terbatas. Referensi Budidaya atau petunjuk budidaya tanaman di musim penghujan tidak dapat diterapkan sepenuhnya saat musim kemarau. Oleh karena itu pengkajian beberapa kesesuaian komoditi masih terus dilakukan untuk mendukung kegiatan pengembangan areal hortikultura lahan gambut di Desa Sering.

Pendampingan kegiatan budidaya tanaman hortikultura ini akan terus dilaksanakan sebagimana visi dan misi yang emban oleh pihak CD RAPP dengan bekerjasama dengan PKHT IPB untuk terus melakukan kajian perbaikan budidaya tanaman hortikultura spesifik lahan gambut. Sampai laporan Akhir tahun Pertama ini disampaikan, bahwa masih banyak kendala lapang terutama masalah kekeringan dan hal lain yang perlu dikaji kembali terutama akibat berbagai faktor pembatas. Namun demikian harapan selanjutnya PKHT IPB bersama – sama dengan pihak RAPP melalui bantuan program DIKTI IbW CSR ini terus melanjutkan kegiatan pendampingan dan kajian terutama menyangkut kegiatan pertanian hortikultura.

Kegiatan pengembangan hortikultura di lahan gambut ini juga secara tidak langsung berdampak pada berkurangnya resiko kebakaran lahan gambut. Hal ini terbukti pada dua tahun terakhir ini bahwa kawasan yang ditanami tanaman hortikultura di sekitar Desa Sering tidak terkena imbas kebakaran gambut, karena selalu termonitor akibat kegiatan budidaya hortikulura yang intensif. Oleh karena itu, pengembangan tanaman hortikultura di lahan gambut kedepannya tidak hanya dalam persepektif perubahan iklim (emisi karbon) dan meningkatkan taraf hidup secara langsung, akan tetapi dihadapkan pada upaya turut dalam pencegahan kebakaran lahan gambut.