Rapat Koordinasi Kebijakan Pengembangan Cabai dan Bawang

rakor1 rakor2

Cabai dan bawang merah merupakan dua komoditas strategis yang ditetapkan sebagai bahan pangan pokok selain beras, jagung, dan kedelai.  Selain itu sebagai bahan pangan pokok yang tidak tergantikan, cabai dan bawang juga merupakan komoditas hortikultura yang paling banyak diusahakan oleh masyarakat. Komoditas tersebut menjadi perhatian serius pemerintah karena keduanya memberikan andil yang cukup signifikan dalam menentukan inflasi.

Rapat Koordinasi Kebijakan Pengembangan Cabai dan Bawang diselenggarakan sebagai upaya untuk menjaga kontinuitas produksi, terpenuhinya pasokan, serta stabilisasi harga cabai dan bawang merah.  Acara yang digagas oleh Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian ini diselenggarakan di Ruang Rapat Hotel Santika Bogor pada tanggal 29 Februari 2016 mulai jam 10.00 – 16.30 WIB.  Rakor dihadiri oleh sekitar 30 orang yang berasal dari beberapa instansi, yaitu Sekretaris Ditjen Hortikultura, Direktorat Sayuran dan Tanaman Obat, Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura (Puslitbanghorti), Badan Ketahanan Pangan, Perum BULOG, Kementerian Perdagangan, Dinas Pertanian Tanaman Pangan Propinsi Jawa Barat, Departemen Agronomi dan Hortikultura (AGH – IPB), Pusat Kajian Hortikultura Tropika (PKHT – IPB), dan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian selaku penyelenggara.

Rapat Koordinasi dimoderatori oleh Darda Efendi (Kepala PKHT – IPB) menghadirkan tiga orang pembicara, yaitu Karyawan Gunarso (Perum BULOG), Yanuardi (Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Kementerian Pertanian), dan M. Firdaus (Wakil Dekan FEM dan Kepala Divisi Pemasaran, Kemitraan, dan Kebijakan PKHT – IPB).  Dari Rapat Koordinasi ini diketahui bahwa produksi cabai dan bawang nasional secara agregat dalam satu tahun sebenarnya sudah melebihi kebutuhan konsumsi.  Namun demikian masih sering ditemukan kekurangan suplai dan terjadi fluktuasi harga yang disebabkan adanya kesenjangan suplai antar waktu maupun kesenjangan antar wilayah.

Beberapa hal penting yang menjadi catatan dalam Rakor ini diantaranya adalah :

  1. Perlu dikembangkan suatu Badan Otoritas Pangan atau Badan Pangan Nasional yang bertugas untuk mengelola pangan nasional termasuk cabai dan bawang (suplai, distribusi, pasar, dll.) dan bertanggung jawab langsung kepada Presiden. Kehadiran (intervensi) pemerintah dalam hal ini Badan Pangan Nasional diperlukan untuk menjamin ketersediaan dan menjaga kestabilan harga baik pada saat harga tinggi maupun pada saat harga jatuh.
  2. Perlu dikembangkan sistem logistik dan distribusi cabai dan bawang merah yang efisien sehingga dapat mengurangi disparitas harga baik karena kesenjangan antar waktu maupun kesenjangan antar wilayah. Hal ini perlu melibatkan instansi terkait seperti Kementerian Perhubungan.  Sistem logistik dan distribusi ini perlu didukung dengan teknologi dan investasi cold storage.
  3. Perlu adanya edukasi dan promosi konsumen untuk diversifikasi konsumsi cabai dan bawang, baik dalam hal jenis (cabai merah, cabai keriting, cabai rawit) maupun dalam hal bentuknya (produk segar, produk kering, produk bubuk, atau produk olahan beku).
  4. Perlu diupayakan wilayah mandiri pangan (cabai dan bawang merah) melalui pengembangan dan penyebaran kawasan produksi baru. Pengembangan kawasan baru ini perlu dukungan teknologi budidaya mulai varietas unggul, bibit bermutu, teknologi produksi lapang (irigasi, pemupukan, PHT) dan teknologi pascapanen.
  5. Perlu dikembangkan teknologi early warning system yang dapat memantau perkembangan informasi harian dari harga cabai dan bawang merah di beberapa sentra produksi dan pasar induk di Indonesia. Sistem ini dapat dimanfaatkan oleh produsen dan konsumen untuk menentukan harga pasar serta oleh pemerintah untuk menentukan perlunya intervensi dalam menjamin ketersediaan dan stabilisasi harga.
  6. Harga referensi cabai dan bawang merah yang ditetapkan pada tahun 2013 mungkin perlu dikaji kembali apakah masih relevan dengan kondisi saat ini. Harga referensi tersebut dianggap masih terlalu rendah sehingga kurang menguntungkan bagi pelaku usaha agribisnis cabai dan bawang merah nasional.
  7. Perlu dikembangkan sistem pasar yang lebih berkeadilan bagi seluruh pelaku agribisnis cabai dan bawang merah serta harga lebih terjangkau oleh konsumen. Beberapa hal yang dapat dilakukan misalnya adalah sistem contract farming, memperpendek rantai pasar, dan pembinaan pedagang perantara (middle man). (KDa)

Rapat Kerja PUI 2016

IMG_20160218_161208

Rapat Kerja Pusat Unggulan IPTEK (PUI) dilaksanakan selama dua hari, yaitu pada tanggal 17-18 Februari 2016 di Gedung D Kemenristekdikti – Jakarta.  Acara ini diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Kelembagaan IPTEK dan Pendidikan Tinggi – Kemenristekdikti. Rapat kerja ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman lembaga PUI terkait skema, mekanisme dan tahapan pelaksanaan kegiatan pengembangan PUI; Menguatkan sinergi kegiatan pengembangan PUI; Meningkatkan pemahaman lembaga dalam persiapan perolehan akreditasi lembaga; dan Meningkatkan pemahaman lembaga mengenai konsep dan instrumen pengukuran tingkat kesiapan teknologi (technology readiness level) dalam mendukung pemanfaatan hasil riset.  Acara selama dua hari tersebut dihadiri oleh 103 orang peserta yang berasal dari 45 lembaga Pusat Unggulan IPTEK.  Dalam acara tersebut, hadir sebagai perwakilan PKHT adalah Dr. Ir. Darda Efendi, MSi. (Kepala PKHT) dan didampingi oleh Kusuma Darma, SP. MSi.

Rapat Kerja PUI tahun 2016 dibuka dan mendapat pengarahan dari Bapak Dr. Agus Indarjo sebagai Sekretaris Dirjen Kelembagaan IPTEK dan Dikti.  Acara dilanjutkan dengan Pembahasan Topik I yaitu Penjelasan Rencana Kerja PUI Tahun 2016 yang disampaikan oleh Bapak Ir. Kemal Prihatman, M.Eng. selaku Direktur Lembaga Litbang Kemenristekdikti.  Setelah makan siang acara dilanjutkan dengan Pembahasan dan Konfirmasi Rencana Kerja Pengembangan PUI yang dipandu oleh Bapak Yudho Baskoro, MSi. MPP.

_20160217_095701

Pada hari kedua terdapat lima acara yang diawali dengan Penjelasan Program Insentif Kemenristekdikti yang meliputi Program Perlindungan Kekayaan Intelektual (HKI); Program Pengembangan SDM; Program Inovasi Industri (Insentif Teknologi bagi Industri); dan Program Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi (PPBT) di Perguruan Tinggi.  Acara kemudian dilanjutkan dengan Penjelasan dan Pembahasan Persiapan Perolehan Akreditasi Pranata Litbang (KNAPPP) sampai rehat makan siang.  Setelah rehat makan siang, acara dilanjutkan dengan Penjelasan Konsep dan Instrumen Pengukuran Tingkat Kesiapan Teknologi (TRL).

Untuk pembelajaran bagi Pusat Unggulan IPTEK yang baru dibina, disampaikan pula Kisah Sukses (Success Story) PUI yang dibagi dalam dua sesi.  Pada sesi pertama, disampaikan Success Story PUI secara menyeluruh dari tiga lembaga PUI, yaitu Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS), Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (PUSLITKOKA), dan Lembaga Penyakit Tropis (TDC) Universitas Airlangga.  Pada sesi kedua, dihadirkan enam lembaga PUI yang menyampaikan Success Story secara lebih spesifik, yaitu Pusat Kajian Hortikultura Tropika (PKHT) IPB, Balai Besar Litbang Pasca Panen (BB Pasca Panen), Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi), Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Pusat Mikro Elektronik (PME) ITB, dan Pusat Penelitian Teh dan Kina (PPTK) Gambung.  Dalam kesempatan tersebut PKHT menyampaikan Success Strory terkait Sourcing Capacity : Pengelolaan Internal Lembaga dan Akses Informasi.  Acara Rapat Kerja PUI ditutup oleh Direktur Lembaga Litbang Kemenristekdikti yaitu Bapak Ir. Kemal Prihatman, M.Eng. dengan pesan agar lembaga PUI dapat berkontribusi lebih baik lagi dalam meningkatkan dayasaing nasional melalui peningkatan inovasi dan adanya sinergi antar lembaga. Bukan kerja-kerja-kerja tetapi kerjasama-kerjasama-kerjasama pungkasnya. (KDa)

Workshop Penguatan Kelembagaan Pusat Unggulan IPTEKS tahun 2015

Penguatan kelembagaan iptek merupakan langkah penting dalam penguatan sistem inovasi nasional agar lembaga iptek dapat berkinerja tinggi dengan menghasilkan inovasi teknologi yang sesuai dengan kebutuhan dan kapasitas adopsi penggunaan teknologi (masyarakat, industri, dan pemerintah). Diharapkan dengan tumbuhnya inovasi dan teknologi yang disertai dengan pemanfaatan oleh pengguna, kontribusi iptek terhadap pertumbuhan ekonomi dapat meningkat. Salah satu upaya Kementerian Riset dan Teknologi untuk memperkuat kelembagaan iptek adalah melalui pengembangan Pusat Unggulan Iptek. Tujuan dikembangkannya Pusat Unggulan Iptek adalah untuk meningkatkan kapasitas dan kapabilitas lembaga litbang menjadi lembaga litbang unggul bertaraf internasional dalam bidang prioritas spesifik agar terjadi peningkatan relevansi dan produktivitas serta pendayaan iptek dalam sektor produksi untuk menumbuhkan perekonomian nasional dan berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Workshop ini dihadiri oleh pusat-pusat yang ada di lingkungan IPB serta dihadiri oleh Wakil Ketua LPPM IPB, Bapak Hartoyo. Beliau menekankan bahwa LPPM memiliki suatu model, yaitu model yang megintegrasikan penelitian dengan pengabdian kepada masyarakat. Inovasi hasil penelitian diharapkan bisa didiseminasikan kepada masyarakat. Dalam menjalankan model tersebut diharapkan setiap pusat yang ada di lingkungan IPB dapat membuat kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan oleh mahasiswa KKN. Wakil Ketua LPPM IPB juga mengharapkan setiap pusat agar mengisi sistem manajemen kerja yang berfungsi untuk mengevaluasi apa saja yang sudah dilakukan oleh pusat-pusat di lingkungan IPB. Sebagai pemateri, Bapak Kemal Prihatman (Direktur Lembaga Litbang Kemenristek Dikti) memberikan beberapa uraian mengenai Pusat Unggulan Iptek (PUI), bagaimana tahapan suatu lembaga menjadi PUI. Salah satu faktor yang mendorong inovasi adalah kualitas lembaga litbang. Kualitas lembaga litbang di Indonesia masih tertinggal dibanding negara Asia Tenggara lainnya seperti Malaysia dan Singapura. Suatu lembaga dikatakan berkualitas bila sudah menerapkan dua hal yaitu PUI dan adanya Science Techno Park (STP) yang dibangun. Kemudian acara dilanjutkan dengan lesson learn yaitu sharing pusat-pusat yang sudah menjadi PUI diantaranya PKHT, PSB, SBRC dan PSSP. Dengan adanya lesson learn ini diharapkan pusat-pusat yang belum menjadi PUI bisa termotivasi untuk menjadi PUI, karena banyaknya manfaat yang diberikan bila pusat menjadi PUI.

IMG_3524 IMG_3546 IMG_3555

P51204-092315

FGD Master Plan Pengembangan Kawasan Hortikultura Indonesia

Focus Group Discussion (FGD) 2 terkait pembuatan Masterplan Pengembangan Kawasan Hortikultura khususnya Cabai, Bawang Merah, dan Jeruk di Indonesia diadakan di Hotel Santika Pada Tanggal 18 November 2015. Pertemuan ini menghasilkan banyak masukan yang membangun. Prof. Roedhy menyampaikan bahwa perlu adanya terobosan kebijakan untuk memperbaiki stabilitas produksi, karena kebijakan yang dilakukan sekarang dengan 40 tahun lalu seperti tidak ada perbedaan sehingga stabilitas produksi masih belum bisa diwujudkan. Prof. Anas juga memberikan masukan bahwa penetapan kawasan monokultur harus dekat dengan pasar untuk meningkatkan efisiensi dan memberikan dampak yang cukup berarti bagi stabilitas produksi sehingga sampai ke konsumen dengan baik. Beberapa masukan lain dari para hadirin dalam FGD ini akan sangat membantu dalam penyempurnaan masterplan ke depannya. FGD 2 ini dihadiri oleh beberapa petinggi dan senior dari Pusat Kajian Hortikultura Tropika, serta perwakilan dari Direktorat Jenderal Hortikultura.

P51118-100034 P51118-100015 P51118-090703 P51118-090635

Seminar Nasional Perhorti 2015

IMG_8212 IMG_8261 IMG_8303Pada tanggal 19-20 Oktober 2015, PKHT bekerjasama dengan Departemen AGH Faperta IPB menyelenggarakan Seminar Nasional Perhorti dengan tema “Sinergi Stakeholder Holtikultura Indonesia Menghadapi Pasar Global” untuk mewadahi diseminasi dan pertukaran informasi para pelaku holtikultura bertempat di Hotel Savero Golden, Jl. Raya Pajajaran-Bogor. Peserta Seminar Nasional Perhorti berasal dari Peneliti/Dosen Perguruan Tinggi yang ada di Indonesia. Peserta berjumlah sekitar 200 orang.

Dalam Seminar Nasional Perhorti 2015 ada mini symposium (FGD) yang terdiri dari :
1. FGD Sayuran Indigenous
2. FGD Sayuran Cabe dan Bawang
3. FGD Buah Jeruk
3. FGD Tanaman Krisan

Pembicara seminar dari IPB, Kementan, Kemenko Ekuin, Komisi IV DPR RI, Dirut PTPN 8.

Berikut rumusan pleno dan FGD RUMUSAN PLENO dan FGD Perhorti 2015

Kunjungan Lembaga Internasional ke Pusat Unggulan Iptek

Kunjungan Lembaga Internasional ke Pusat Unggulan Iptek

1. Sumitomo Chemical Japan Penjajagan Kerjasama 30 Januari 2015
2. JATAFF, Jepang Penjajagan penelitian bawang merah dan kentang 17-18 Februari 2015
3. Ibaraki University Kerjasama penelitian 13 Maret 2015
4. Prince of Sangkla University, Thailand Pengembangan penelitian manggis 5-6 Agustus 2015
5. University of Nebraska, Lincoln Kunjungan penelitian 6 Agustus 2015
6. University of The Ryukyus Magang/pelatihan 26 Agustus 2015
7. AVRDC-The World Vegetable Center Kunjungan 7 September 2015
8. United Nations University and Yamaguchi University, Japan Kunjungan 23 September 2015
9. Queensland Dept of Agriculture & Forestry, Australia Kunjungan 26 september 2015
10.Walailak University Tasala, Nakhor’si Thamarut Visiting Scientist dan Seminar 23 Sept-7 Okt 2015 15