Teknologi Mikroba Intensif untuk Pengendalian Hayati Penyakit Tanaman Cabai

Penerapan teknologi mikroba intensif dilakukan di dua lokasi, yaitu dataran rendah (+ 50 m dpl) dan dataran tinggi (+ 950 m dpl). Teknologi mikroba-intensif diterapkan baik pada fase pertumbuhan, yaitu pertumbhan bibit di pembibitan dan pertumbuhan tanaman di lapangan. Saat ini, tanaman dataran rendah sudah selesai dipanen, sedangkan tanaman di dataran tinggi masih pada periode generatif. Penerapan teknologi di lapangan dan pengamatan tanaman di dataran tinggi masih terus dilakukan hingga tanaman selesai di panen. Pengamatan pada persemaian cabai menunjukkan bahwa teknologi mikroba-intensif secara konsisten dapat meningkatkan persentase benih berkecambah, meningkatkan keseragaman perkecambahan benih, meningkatkan pertumbuhan bibit, dan mengurangi penyakit rebah kecambah. Pengamatan lebih lanjut di lapangan menunjukkan bahwa teknologi mikroba-intensif akan meningkatkan tinggi, jumlah cabang, produksi tanaman, dan bobot buah cabai yang dihasilkan. Selain itu, penerapan teknologi mikroba-intensif dapat menekan penyakit virus, layu, embun tepung, dan bercak daun cercospora. Pengamatan serangan penyakit di lapangan menunjukkan bahwa perlakuan mikroba-intensif memberikan hasil yang lebih baik daripada perlakuan konvensional menggunakan pestisida sintetis. Oleh karena itu, penggunaan teknologi mikroba-intensif dapat mengurangi ketergantungan petani terhadap pestisida sintetis. Luaran wajib yang dihasilkan adalah diperolehnya dokumentasi hasil ujicoba produk agens pengendali hayati. Dari kegiatan ini telah disusun dokumen hasil ujicoba produk dengan melakukan pengujian pada dua lokasi. Hasil pengujian akan disusun dalam bentuk petunjuk teknis penerapan teknologi mikroba-intensif pada tanaman cabai. Selain luaran wajib, taget luaran tambahan tahun kedua dari kegiatan ini adalah publikasi pada jurnal ilmiah nasional. Satu artikel publikasi siap untuk disubmit pada Jurnal Hortikultura dan satu draft artikel sedang disempurnakan. Saat ini juga sudah dilakukan pendaftaran merek “FRUCTOGARD” atas produk yang dikembangkan pada Direktur Jenderal Kekayaan Intelektual, Kementerian Hukum dan HAM.

Penyehatan Lahan Bawang Merah Untuk Peningkatan Produksi Umbi Di Kabupaten Demak

Pada saat ini lahan pertanian di Pulau Jawa sudah mengalami penurunan kesuburan tanah, yang dicirikan dengan rendahnya kandungan bahan organik (60% lahan <1% bahan organik), hal ini disebabkan indeks tanam yang tinggi, aplikasi pupuk an-organik tidak bijaksana, penggunaan pestisida berlebih, suhu tinggi dan kurang aplikasi bahan organik. Disisi lain pembenah tanah dapat diperoleh dari lingkungan sekitar lahan produksi, seperti misalnya bahan organik dari ternak para petani yang masih belum dioptimalkan. Dalam rangka stabilitas pasokan umbi bawang merah dan efisiensi produksi perlu dilakukan verifikasi pembenah tanah komersial dibandingkan bahan pembenah tanah lokal dan teknok budidaya petani yang sudah ada.

Upaya penyehatan lahan merupakan upaya paling efisien dan efektif dalam meningkatkan produksi bawang secara berkelanjutan. Sehingga petani akan mendapatkan pendapatan dari usaha tani secara maksimum dan tetap semangat dalam menjaga stabilitas harga bawang merah. Hal lain yang perlu dilakukan adalah pengembangan best practices untuk lokasi spesifik dengan melibatkan penggunaan benih yang bermutu, pupuk berimbang dan penerapan Pengendalian Hama Terpadu.

Tujuan Penelitian

Melakukan upaya penyehatan lahan bawang merah dengan aplikasi pembenah tanah yang didukung best practices spesifik lokasi yang mampu meningkatkan produksi umbi bawang merah secara efektif, efisien, dan ramah lingkungan untuk menurunkan biaya produksi dan BEP untuk menjaga harga bawang merah yang adil secara berkelanjutan.

Hasil Penelitian

Analisis tanah di lokasi kegiatan menunjukkan bahwa kandungan C-organik, P yang tersedia, N, dan K tergolong rendah, sehingga perlu aplikasi pembenah tanah. Aplikasi pembenah tanah dan agen hayati pada musim hujan dapat meningkatkan produktivitas sebesar 33.7% dibandingkan perlakuan konvensional petani. Rata-rata produktivitas perlakuan pembenah tanah dengan agen hayati sebesar 12.3 ton/ha, sedangkan perlakuan konvensional sebesar 9.2 ton/ha.

Analisis usahatani pada perlakuan pembenah tanah dengan agen hayati dapat menurunkan biaya produksi sebesar 10%, menurunkan BEP sebesar 32.7%, dan meningkatkan keuntungan petani sebesar 138%. Biaya produksi perlakuan pembenah tanah dengan agen hayati sebesar Rp 87,415,000/ha dengan BEP Rp 7,107/kg. Sedangkan biaya produksi perlakuan konvensional sebesar Rp 97,208,000/ha dengan BEP Rp 10,566/kg.

 A

B

C

Gambar 1. Sosialisasi penyehatan lahan dan best practices bawang merah di Kab. Demak. (A) kelompok tani yang mengikuti sosialisasi daring, (B) Sosialisasi luring hari ke-1, (C) sosialisasi luring hari ke-2

Gambar 2. Lampu perangkap yang digunakan di lokasi

Gambar 3. Keragaan vegetatif tanaman bawang merah (A) 13 HST, (B) 28 HST