{"id":4173,"date":"2021-06-17T14:59:34","date_gmt":"2021-06-17T07:59:34","guid":{"rendered":"http:\/\/pkht.ipb.ac.id\/?p=4173"},"modified":"2021-11-03T13:57:57","modified_gmt":"2021-11-03T06:57:57","slug":"pengembangan-teknologi-pasca-panen-bawang-putih-dalam-rangka-ketersediaan-pangan-dan-perbanihan-nasional","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/pkht.ipb.ac.id\/index.php\/2021\/06\/17\/pengembangan-teknologi-pasca-panen-bawang-putih-dalam-rangka-ketersediaan-pangan-dan-perbanihan-nasional\/","title":{"rendered":"Pengembangan Teknologi Pasca Panen Bawang Putih dalam Rangka Ketersediaan Pangan dan Perbenihan Nasional"},"content":{"rendered":"<p>Salah satu permasalahan yang berpengaruh terhadap produksi bawang putih adalah ketersediaan benih yang siap ditanam karena masa dormansi benih bawang putih. mencapai 4-5 bulan setelah masa panen. Penyimpanan adalah penanganan pascapanen yang memiliki peranan yang penting pada bawang putih karena dapat digunakan untuk mengendalikan ketersediaan benih bawang putih. Penyimpanan benih dalam cold storage yang bersuhu 5- 10\u00b0 C selama dua minggu dapat mempercepat pertumbuhan bawang putih hingga 2 bulan. Secara umum tujuan penelitian adalah mengembangkan teknologi pascapanen bawang putih untuk mendukung pencapaian swasembada bawang putih. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa air UFBs dapat dijadikan solusi terhadap permasalahan dormansi bawang putih khususnya di Indonesia. Banyak keunggulan yang ditawarkan dari penggunaan teknologi terbaru ini. Pematahan dormansi menggunakan air UFBs bukan hanya mempercepat waktu dormansinya namun nantinya juga dapat mengatur waktu tanam sesuai dengan yang diinginkan. Luaran wajib yang dihasilkan adalah paten sederhana (HKI) dan teknologi tepat guna berupa SOP teknologi pascapanen bawang putih untuk bibit dan percepatan perkecambahan bibit bawang putih. Penelitian ini juga melibatkan mahasiswa S1 dan S2. Tingkat Kesiapan Teknologi (TKT) yang ditargetkan adalah 6. Teknologi percepatan dormansi benih bawang putih telah diujicobakan ke kebun petani di Tegal.\u00a0<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-4677 size-full aligncenter\" src=\"https:\/\/pkht.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2021\/06\/Panen.jpg\" alt=\"\" width=\"681\" height=\"445\" srcset=\"https:\/\/pkht.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2021\/06\/Panen.jpg 681w, https:\/\/pkht.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2021\/06\/Panen-300x196.jpg 300w, https:\/\/pkht.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2021\/06\/Panen-100x65.jpg 100w\" sizes=\"auto, (max-width: 681px) 100vw, 681px\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\">Gambar 1. Rektor IPB, Prof Dr Arif Satria, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Tegal, M Taufik Amrozi dan Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Tegal, Ir Toto Subandriyo MM beserta kelompok tani Desa Tuwel, Ahkmad Maufur saat melakukan panen bawang putih hasil inovasi.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/suarabaru.id\/2021\/01\/16\/pertama-di-indonesia-panen-benih-bawang-putih-hasil-inovasi\/\">https:\/\/suarabaru.id\/2021\/01\/16\/pertama-di-indonesia-panen-benih-bawang-putih-hasil-inovasi\/<\/a><\/p>\n\n\n<p><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Salah satu permasalahan yang berpengaruh terhadap produksi bawang putih adalah ketersediaan benih yang siap ditanam karena masa dormansi benih bawang putih. mencapai 4-5 bulan setelah masa panen. Penyimpanan adalah penanganan pascapanen yang memiliki peranan yang penting pada bawang putih karena dapat digunakan untuk mengendalikan ketersediaan benih bawang putih. Penyimpanan benih dalam cold storage yang bersuhu [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[14],"tags":[],"class_list":["post-4173","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-kegiatan"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v21.4 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Pengembangan Teknologi Pasca Panen Bawang Putih dalam Rangka Ketersediaan Pangan dan Perbenihan Nasional -<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/pkht.ipb.ac.id\/index.php\/2021\/06\/17\/pengembangan-teknologi-pasca-panen-bawang-putih-dalam-rangka-ketersediaan-pangan-dan-perbanihan-nasional\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Pengembangan Teknologi Pasca Panen Bawang Putih dalam Rangka Ketersediaan Pangan dan Perbenihan Nasional -\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Salah satu permasalahan yang berpengaruh terhadap produksi bawang putih adalah ketersediaan benih yang siap ditanam karena masa dormansi benih bawang putih. mencapai 4-5 bulan setelah masa panen. Penyimpanan adalah penanganan pascapanen yang memiliki peranan yang penting pada bawang putih karena dapat digunakan untuk mengendalikan ketersediaan benih bawang putih. Penyimpanan benih dalam cold storage yang bersuhu [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/pkht.ipb.ac.id\/index.php\/2021\/06\/17\/pengembangan-teknologi-pasca-panen-bawang-putih-dalam-rangka-ketersediaan-pangan-dan-perbanihan-nasional\/\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2021-06-17T07:59:34+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2021-11-03T06:57:57+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/pkht.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2021\/06\/Panen.jpg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"admin\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"admin\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"1 minute\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/pkht.ipb.ac.id\/index.php\/2021\/06\/17\/pengembangan-teknologi-pasca-panen-bawang-putih-dalam-rangka-ketersediaan-pangan-dan-perbanihan-nasional\/\",\"url\":\"https:\/\/pkht.ipb.ac.id\/index.php\/2021\/06\/17\/pengembangan-teknologi-pasca-panen-bawang-putih-dalam-rangka-ketersediaan-pangan-dan-perbanihan-nasional\/\",\"name\":\"Pengembangan Teknologi Pasca Panen Bawang Putih dalam Rangka Ketersediaan Pangan dan Perbenihan Nasional -\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/pkht.ipb.ac.id\/#website\"},\"datePublished\":\"2021-06-17T07:59:34+00:00\",\"dateModified\":\"2021-11-03T06:57:57+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/pkht.ipb.ac.id\/#\/schema\/person\/23db262d4f2576fa5a87123b479b4ed6\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/pkht.ipb.ac.id\/index.php\/2021\/06\/17\/pengembangan-teknologi-pasca-panen-bawang-putih-dalam-rangka-ketersediaan-pangan-dan-perbanihan-nasional\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/pkht.ipb.ac.id\/index.php\/2021\/06\/17\/pengembangan-teknologi-pasca-panen-bawang-putih-dalam-rangka-ketersediaan-pangan-dan-perbanihan-nasional\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/pkht.ipb.ac.id\/index.php\/2021\/06\/17\/pengembangan-teknologi-pasca-panen-bawang-putih-dalam-rangka-ketersediaan-pangan-dan-perbanihan-nasional\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/pkht.ipb.ac.id\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Pengembangan Teknologi Pasca Panen Bawang Putih dalam Rangka Ketersediaan Pangan dan Perbenihan Nasional\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/pkht.ipb.ac.id\/#website\",\"url\":\"https:\/\/pkht.ipb.ac.id\/\",\"name\":\"\",\"description\":\"\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/pkht.ipb.ac.id\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/pkht.ipb.ac.id\/#\/schema\/person\/23db262d4f2576fa5a87123b479b4ed6\",\"name\":\"admin\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/pkht.ipb.ac.id\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/1245f8720b6028e126c9f5208660dfd0e3cb8093ac73be42031f80b229cad5d9?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/1245f8720b6028e126c9f5208660dfd0e3cb8093ac73be42031f80b229cad5d9?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"admin\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/pkht.ipb.ac.id\/\"],\"url\":\"https:\/\/pkht.ipb.ac.id\/index.php\/author\/admin\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Pengembangan Teknologi Pasca Panen Bawang Putih dalam Rangka Ketersediaan Pangan dan Perbenihan Nasional -","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/pkht.ipb.ac.id\/index.php\/2021\/06\/17\/pengembangan-teknologi-pasca-panen-bawang-putih-dalam-rangka-ketersediaan-pangan-dan-perbanihan-nasional\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Pengembangan Teknologi Pasca Panen Bawang Putih dalam Rangka Ketersediaan Pangan dan Perbenihan Nasional -","og_description":"Salah satu permasalahan yang berpengaruh terhadap produksi bawang putih adalah ketersediaan benih yang siap ditanam karena masa dormansi benih bawang putih. mencapai 4-5 bulan setelah masa panen. Penyimpanan adalah penanganan pascapanen yang memiliki peranan yang penting pada bawang putih karena dapat digunakan untuk mengendalikan ketersediaan benih bawang putih. Penyimpanan benih dalam cold storage yang bersuhu [&hellip;]","og_url":"https:\/\/pkht.ipb.ac.id\/index.php\/2021\/06\/17\/pengembangan-teknologi-pasca-panen-bawang-putih-dalam-rangka-ketersediaan-pangan-dan-perbanihan-nasional\/","article_published_time":"2021-06-17T07:59:34+00:00","article_modified_time":"2021-11-03T06:57:57+00:00","og_image":[{"url":"https:\/\/pkht.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2021\/06\/Panen.jpg"}],"author":"admin","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"admin","Est. reading time":"1 minute"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/pkht.ipb.ac.id\/index.php\/2021\/06\/17\/pengembangan-teknologi-pasca-panen-bawang-putih-dalam-rangka-ketersediaan-pangan-dan-perbanihan-nasional\/","url":"https:\/\/pkht.ipb.ac.id\/index.php\/2021\/06\/17\/pengembangan-teknologi-pasca-panen-bawang-putih-dalam-rangka-ketersediaan-pangan-dan-perbanihan-nasional\/","name":"Pengembangan Teknologi Pasca Panen Bawang Putih dalam Rangka Ketersediaan Pangan dan Perbenihan Nasional -","isPartOf":{"@id":"https:\/\/pkht.ipb.ac.id\/#website"},"datePublished":"2021-06-17T07:59:34+00:00","dateModified":"2021-11-03T06:57:57+00:00","author":{"@id":"https:\/\/pkht.ipb.ac.id\/#\/schema\/person\/23db262d4f2576fa5a87123b479b4ed6"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/pkht.ipb.ac.id\/index.php\/2021\/06\/17\/pengembangan-teknologi-pasca-panen-bawang-putih-dalam-rangka-ketersediaan-pangan-dan-perbanihan-nasional\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/pkht.ipb.ac.id\/index.php\/2021\/06\/17\/pengembangan-teknologi-pasca-panen-bawang-putih-dalam-rangka-ketersediaan-pangan-dan-perbanihan-nasional\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/pkht.ipb.ac.id\/index.php\/2021\/06\/17\/pengembangan-teknologi-pasca-panen-bawang-putih-dalam-rangka-ketersediaan-pangan-dan-perbanihan-nasional\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/pkht.ipb.ac.id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Pengembangan Teknologi Pasca Panen Bawang Putih dalam Rangka Ketersediaan Pangan dan Perbenihan Nasional"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/pkht.ipb.ac.id\/#website","url":"https:\/\/pkht.ipb.ac.id\/","name":"","description":"","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/pkht.ipb.ac.id\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/pkht.ipb.ac.id\/#\/schema\/person\/23db262d4f2576fa5a87123b479b4ed6","name":"admin","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/pkht.ipb.ac.id\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/1245f8720b6028e126c9f5208660dfd0e3cb8093ac73be42031f80b229cad5d9?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/1245f8720b6028e126c9f5208660dfd0e3cb8093ac73be42031f80b229cad5d9?s=96&d=mm&r=g","caption":"admin"},"sameAs":["https:\/\/pkht.ipb.ac.id\/"],"url":"https:\/\/pkht.ipb.ac.id\/index.php\/author\/admin\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/pkht.ipb.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4173","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/pkht.ipb.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/pkht.ipb.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pkht.ipb.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pkht.ipb.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4173"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/pkht.ipb.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4173\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4680,"href":"https:\/\/pkht.ipb.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4173\/revisions\/4680"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/pkht.ipb.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4173"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/pkht.ipb.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4173"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/pkht.ipb.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4173"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}